Layang-layang Rindu

KRIIIIIIIIIIIINGGG!!!

Sontak mataku terbuka ketika mendengar dering yang memekakkan telinga. Dengan pandangan yang belum penuh, aku mencoba melihat rangkaian angka di layar handphone yang menjadi pengusik sepagi ini.

“085746xxxxxx.”

Ini… bunda.

“Halo..” kataku dengan suara berat layaknya orang yang baru bangun tidur. Namun tak ada jawaban. “Halo..” ulangku sekali lagi.

“Halo mas.” terdengar suara lirih anak kecil setengah menangis. Suara ini, aku sangat mengenalnya. Ini Kyant, adik bungsuku yang masih berusia 4 tahun. Namun kali ini suaranya sedikit berat, tidak lantang seperti biasanya. “Mas udah nyampek mana? Aku kangen loh.

Aku terkejut. Seketika mataku terbelalak. Ada apa Kyant meneleponku sepagi ini dengan setengah menangis? Dengan otak yang belum sepenuhnya bekerja, aku hanya bisa diam. Mencoba mencerna secepat mungkin sambil mengumpulkan nyawa yang sebagian masih tertinggal di alam lelap. Lalu tiba-tiba terdengar riuh suara handphone yang berpindah tangan.

“Halo le.”

“Iya, halo bunda.”

“Kamu baru bangun ya?”

“iya.”

Adekmu lagi sakit. Dari kemarin nanyain kamu terus. Katanya: Mas kapan datengnya bunda? Udah nyampe mana?

“Sakit?” Aku makin terkejut. Ini menjelaskan mengapa suara Kyant berbeda dari biasanya. “Sakit apa bunda?”

“Beberapa hari ini badannya panas. Udah bunda kasih obat. Tapi dia gak mau makan. Nanyain kamu terus. Coba, kamu ngomong sama dia.”

Lalu bunda memberikan handphonenya ke Kyant sambil menyuruhnya berbicara kepadaku.

“Halo mas. Mas udah nyampek mana?” Dia kembali mengulang pertanyaan yang sama. “Aku kangen loh mas.”

Aku tersentak ketika mendengarnya. Hentakan aneh ini seperti mampu membekukan waktu. Detak-detak detik turut membatu. Seolah, saat ini Tuhan sedang memegang remote dan menekan tombol pause.

Aku tak tahu harus berkata apa mendengar Kyant berkata “aku kangen loh mas”. Aku yang sedang duduk di sofa hijau tempatku memejamkan mata semalam, hanya bisa mematung. Mataku yang sebelumnya terbelalak kini tak terbuka selebar tadi. Tiba-tiba saja kantung kelopak mataku terisi penuh. Ada benda cair yang berusaha menekan keluar. Tetapi aku menahannya. Sekuat tenaga, terus menahan. Aku tak ingin peluh ini kembali luruh. Bebulir, kembali menghilir.

Rindu. Bahkan saat ini aku tak bisa mengenali rasa seperti apa yang bisa aku panggil dengan sebutan itu. Sudah terlampau dalam. Semacam dendam yang tak terbalaskan. Mungkin sudah kadaluarsa hingga serupa tiada. Sayangnya, rindu ini sungguh ada. Nyata.

Entah sudah berapa lama. Aku sudah lelah menghitung matahari terbit setiap pagi. Berharap, ketika nanti terbenam, ada tangan mereka untuk ku genggam. Namun nyata selalu kejam. Yang kudapati hanyalah temaram.

Lalu harus kepada siapa aku menyalahkan? Takdir? Keadaan? Atau… Tuhan?

Persetan dengan apapun atau siapapun yang salah. Yang aku tahu, aku merindukan mereka. Lebih dari sekadar kata ‘sangat’. Bagaimana bisa, dengan angkuhnya jarak mampu memisahkan seorang anak dari orang tuanya. Seorang kakak dari adik-adiknya. Untuk kali ini, akhirnya, aku memaki semesta.

Mas..” panggil Kyant menyadarkanku yang sedari tadi bungkam. “Mas udah nyampe mana? Kapan datengnya?”

“Ini mas udah naik bis. Hayo, kamu udah makan belum?”

“Belum. Aku mau makan gak enak.”

“Cepet makan. Kalo gak mau makan, mas gak jadi ke sana. Percaya deh, nanti waktu kamu selesai makan, mas pasti udah nyampe.

Mas mau nyampe ya?”

“Iya. Makanya, kamu makan dulu. Ya?”

“Iya.”

“Yaudah, minta makan sana sama bunda.” bujukku setelah berhasil memenangkan negosiasi dengan anak umur 4 tahun ini.

Bunda. Aku minta makan bunda!” Terdengar lagi riuhnya. Suara riangnya yang khas. Tergambar jelas, dia senang. Dia bahagia. Ini bukan bahagia semu yang menjadi bagian dari rayu. Karena aku tak sepenuhnya berbohong. Aku sedang berusaha. Entah nanti. Entah berapa matahari terbit lagi. Tapi yang pasti, aku akan datang. Aku akan, ‘pulang’.

Mas.

“Iya..”

“Nanti, kalo mas udah nyampe, kita main layangan ya?”

 

 

 

TAMAT

Iklan

Hunian 9 Sasi

Di sini gelap. Tak ada berkas cahaya yang mampu menerobos masuk dan memanjakan retina. Hanya ada gulita. Seluruh permukaan dinding basah karena dipenuhi cairan bening. Bening? Bagaimana bisa aku tahu? Bahkan untuk melihat liukan jemari sendiri saja tak mampu. Karena seperti kataku, di sini gelap.

Namun tempat ini tidaklah hening. Ada dentuman berirama yang berdenting. Alunan dentum yang seolah memberi sugesti: ini tempat paling aman di Bumi. Tunggu, bumi? Ah, aku ingat. Tempat ini adalah persinggahan untuk menanti. Hunian 9 sasi*. Sebelum nanti, aku menjadi salah satu penghuni galaksi.

Hingga satu waktu aku terperanjat. Karena tiba-tiba dinding yang tadinya lembut berdenyut hebat. Tempat ini pun menyempit. Membuat tubuhku perlahan beranjak ke satu lorong sempit. Sebuah lorong di mana kadar temaram memudar. Detik demi detik. Denyut demi denyut. Dalam satu hentakan kuat, ruang gelap lengang seketika berubah terang. Aku tercengang ketika ada dua telapak tangan lembut yang menyambut. Memberi rasa nyaman dan aman. Lalu, untuk kali pertama, aku membuka mata.

Inikah dunia yang pernah kau ceritakan, Tuhan?

 

————————————————————————————————

(*) Bulan.

Telor Petis Ibu Untuk Yoga

“Halo. Assalamualaikum buk.” sapa Yoga seperti biasa ketika menelpon ibunya.

Waalaikumsalam.” jawab ibunya dengan nada sumringah. “Lagi apa le? Gimana kabar kamu?” sambung ibunya dengan aksen Jawanya yang khas.

Ndak lagi ngapa-ngapain buk.” jawab Yoga dengan nada santun. “Kabar Yoga baik. Ibuk sama bapak gimana kabarnya? Sehat toh?”

Alhamdulillah, semua baik le. Gimana skripsinya? Lancar toh? Kamu maemnya ndak pernah telat kan? Jangan sampai sakit loh le.”

Injih buk. Ibuk ndak usah khawatir. Masalah skripsi, masih Yoga kerjain. Moga aja bulan ini selesai.”

“Syukur kalo emang gitu. Uang sakunya masih ada le? Besok ibuk kirim lagi ya?”

Ndak usah buk. Yang kemarin masih ada kok.” jawab Yoga berusaha menghapus rasa khawatir ibunya. “Ibuk ndak apa-apa? Kok dari suara ibuk kayaknya lagi ndak enak badan. Ibuk lagi sakit ya?”

Ndak apa-apa. Cuma batuk biasa le.”

“Bener? Ibuk udah minum obat?”

Udah. . kamu ndak usah khawatirin ibuk. Kamu serius aja sama skripsimu itu. Biar cepet selesai. Biar kamu bisa cepet pulang. Ibuk wes kangen banget sama kamu le.”

“Iya buk. Doain Yoga ya buk? Biar semuanya lancar. Ibuk tadi masak apa buk? Udah setahun lebih Yoga ndak makan masakan ibuk.

Ibuk beberapa hari ini masak telor petis, senenganmu le. Bapakmu sampek sambat* karena bosen.”

“Hehehe. Ya habis ibuk ini ada-ada aja. Bapak kan emang ndak suka telor petis.” kata Yoga sambil terkekeh-kekeh. “Ibuk sama bapak beneran ndak apa-apa kan? Yoga dari kemarin kepikiran.”

“Ya Allah.. ndak apa-apa le. Semua sehat. Sekarang aja, bapak kamu itu kerjaannya lancar loh. Tiep hari pulang bawa uang. Makanya ibuk tiep hari bisa masak telor petis.”

Alhamdulillah kalo gitu buk. Yoga jadi tenang. Buk.. udah dulu ya? Yoga mau berangkat ke kampus. Mau ketemu dosen pembimbing. Ibuk sama bapak jaga kesehatan ya? Salam buat adek-adek buk.

“Iya. Kamu hati-hati di sana. Jangan telat maem. Kalo emang uangnya habis bilang. Nanti pasti ibuk kirimin.”

Injih buk. Ibuk ndak usah khawatir masalah uang. Yoga sekarang nyambi** kerja di sini. Hasilnya lumayan, bisa buat makan sehari-hari.”

“Tapi tetep aja. Kalo ada apa-apa, kamu bilang le. Jangan disimpen sendiri. Ya?”

Injih buk. Yaudah, Yoga berangkat dulu buk. Salam buat bapak. Assalamualaikum.” Ucap yoga sambil menutup telpon. Wajah Yoga mendadak sumringah. Tergambar jelas, semua kekhawatirannya beberapa hari ini sirna setelah mendengar suara ibunya. Meski hanya melalui telpon, rasa rindu yang sudah setahun lebih menumpuk, bisa sedikit terkuras. Bagi Yoga, Surga bukanlah tempat sempurna yang ditawarkan agamanya jika ia rajin melakukan ibadah. Tapi, cukup dengan mendengar bahwa ibunya baik-baik saja.

 

 

***

 

“Siapa buk yang barusan telpon? Yoga?” tanya bapak Yoga yang baru saja pulang sesaat setelah ibu menutup telpon.

“Iya pak. Si Yoga tadi yang telpon.” jawab ibu dengan wajah sumringah. “Bapak baru pulang? Gimana pak kerjaanya?”

“Iya ini baru nyampek. Yah, bapak masih belum hasil seharian ini. Maaf ya buk, bapak belum bisa pulang bawa uang.”

Ndak apa-apa pak. Memang belom rejeki kita saja.” kata ibu sambil tersenyum ke arah bapak. “Bapak pasti capek. Bapak makan dulu sana, terus istirahat. Ibuk tadi udah gorengin tempe sama buatin teh anget.”

Ibuk masak? Emang beras kita masih ada? Kan udah seminggu bapak ndak ngasih ibuk uang”

Alhamdulillah, 3 hari ini ibuk dapat orderan jahit benerin baju ibu-ibu PKK. Jadi bisa beli beras sama tempe pak.”

“Oh gitu. Alhamdulillah ya buk. Gusti Pengeran masih ngasih kita rejeki.”

“Iya pak. Alhamdulillah. Yaudah, bapak makan dulu. Sudah ibuk siapin di meja makan. Ibuk mau masakin air dulu buat bapak mandi nanti.” kata ibu sambil menyuguhkan senyumnya kepada bapak.

“Iya buk. Makasih ya?.” ucap bapak sambil memandang ibu yang dengan senyum khasnya membalikkan badan dan berjalan menuju dapur.

 

 

Tamat.

 

———————————————————————————————

(*) Mengeluh.

(**) Sambil.

JANJI, APAPUN YANG TERJADI, JANGAN TINGGALIN AKU YA?

TINNNNNNN!!!!

Suara klakson bus memekak dari belakang motor kami. Sedang kami, dengan acuhnya tetap bernyanyi. Terbahak, seolah tak peduli, jika saat itu kami bisa tertabrak, dan mati.

“Hahaha.. Dasar kita emang gilak!” teriaknya sambil memelukku erat.

Sore itu, kami menghuni jalan. Kami terus bernyayi. Lagu berganti lagu. Waktu berganti waktu. Tak jarang kami saling menggoda. Bercanda penuh tawa. Ya, hari itu, aku dan dia, penguasa dunia.

Kami sampai di sebuah jalan dengan hamparan pantai di sepanjangnya. Langit cukup teduh. Matahari menjingga isyaratkan hadirnya senja. Semua nampak sempurna.

Peluknya kian erat. Tubuh kami lekat tanpa sekat. Sambil diiringi sebuah lagu cinta penuh makna, dia berkata kepadaku,

“Janji, apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalin aku ya?”

***

Malam sedang bersahabat. Di ruang remang, kami memberi hangat. Hingar alunan tadarus menjadi backsound yang mengiringi akhir petualangan kami, mengarungi surga kecil yang kami ciptakan sendiri.

Love you..” bisikku saat mengecup lembut keningnya.

Love you too, so much!” balasnya sambil melingkarkan lengannya di tubuhku. Butir keringat kami menyatu. Seirama, napas kami terengah, setelah lelah saling memburu. Bilik kecil ini menjadi sedikit hening. Hanya detak jarum waktu yang berdenting. Aku terus memeluknya. Tak bisa kubayangkan, jika kelak semesta mengharuskanku melepasnya. Aku bisa mati, kurasa.

“Sayang..” panggilnya memecah hening.

“Iya sayang, kenapa?”

“Janji, apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalin aku ya?” katanya sambil memelukku lebih erat.

“Iya. Aku janji.” jawabku sambil membalas peluknya.

***

“Aku udah jadian sama Ramdan.” katanya di seberang telpon. “Jadi aku mohon, sekarang kamu harus bisa terima keputusanku.” lanjutnya seolah tanpa rasa bersalah.

Aku diam. Semua jadi temaram. Ah sial. Jantungku seperti enggan berdetak. Amarahku seperti meledak, ingin keluar menjadi bingar. Ini adalah klimaks dari rasa jenuh yang dijadikannya sebagai kambing hitam untuk menghempaskanku. Ingin rasanya aku memaki jarak, yang dengan kejamnya menyulut kata pisah. Hingga kami lelah melawan. Hingga menyerah yang dia putuskan.

Lalu bagaimana dengan janji? Janji yang membuat hati, merasa berhak untuk menagih kembali. Janji yang bagiku, menepatinya adalah harga mati.

Apa memang semua sudah sedemikian tak berarti?

Entahlah. Aku hanya bisa menghela napas. Di tempat sekarang berdiri, kakiku terasa lemas. Mungkin rasa sakit ini, menghujam terlalu keras.

“Kamu inget gak kamu pernah minta apa ke aku?” kataku mengakhiri diam yang sedari tadi membungkam. “Janji, apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalin aku ya?”

Tunggu Aku, Jakarta!

Jarak. Bagaimana kata ini dulu tak berarti bagiku, pun dia. Karena ‘kita’, yang aku dan dia banggakan, lebih besar dari pada rentang yang memisahkan Malang-Jakarta. Tapi kami lupa satu hal, tak selamanya cinta itu sederhana. Sesederhana kata “aku cinta kamu”. Cinta bisa menjadi sangat rumit. Ketika ego dan keadaan bahu-membahu mempersulit, dan pada akhirnya, hanya menyisakan sakit. Ya, rasa sakit.

***** Pondok Labu, Jakarta. Kamis, 23 Februari 2012 *****

“Kamu, ngapain ke sini?” tanyanya dengan nada heran ketika melihat wajah lusuhku sesaat setelah membukakan pintu. “Kamu nyampe jam berapa? Kamu masuk aja dulu deh!” katanya sambil berpaling melangkah masuk ke dalam rumah kontrakannya.

Bukan sapaan manis, senyuman manja, atau bahkan pelukan erat seperti biasanya yang dia berikan. Kali ini berbeda. Benar-benar beda. Setelah 20 jam perjalanan yang harus kutempuh, setelah jarak 817km yang harus kulewati, dan setelah rindu yang tak mampu lagi dilambangkan dengan angka yang harus kutahan, hanya kata “Kamu ngapain ke sini?” yang terbaik yang bisa dia suguhkan untuk menyambutku.

Apakah aku kecewa? Ya, aku kecewa. Aku hancur. Nyaris lebur. Tapi bibirku masih mampu menyimpulkan senyum. Meskipun ada paksa dalam setiap millimeter guratannya. Namun setidaknya, dia akan melihat, bahwa aku baik-baik saja.

Dengan langkah gontai aku berjalan masuk dan duduk di karpet hijau di ruang tamu. Dia duduk tepat di depanku. Setelah berbulan-bulan dihalangi ratusan kilometer, kini hanya 2 jengkal jarak yang memisahkan kami. Dia sangat.. dekat.

“Kamu ngapain ke sini? Kamu kenapa nekat gini sih?” tanyanya yang seolah menegaskan bahwa kedatanganku ini hanyalah tindakan bodoh.

“Aku cuma ngelakuin apa yang aku yakini.” jawabku dengan suara lirih. “Aku pengen kita kaya dulu lagi.” lanjutku sambil meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

“Tapi aku bener-bener gak bisa.” katanya sambil melepaskan genggamanku. “Buat aku, perasaanku ke kamu udah biasa aja. Udah.. gak sama!”

Aku diam. Untuk sepersekian detik, detak jantungku terasa berhenti. Tak ada satu patah kata pun yang mampu dihasilkan pita suaraku. Lidahku mendadak kelu. Membeku kaku. Aku hanya bisa memeluk boneka panda yang kubawa dari Malang sebagai bingkisan untuknya. Begitu erat hanya untuk menahan rasa sakit yang mencekat. Dadaku sesak. Bernapas pun, terasa berat. Hanya tinggal pekat.

Ini kah yang disebut sekarat?

***** Terminal Arjosari, Malang. 20 jam sebelumnya *****

Sudah 2 jam lebih aku duduk di sini. Pantatku mulai mati rasa. Kaki kananku yang sedari tadi tak bisa diam, mengisyaratkan rasa cemas yang sedang bersemayam. Sesekali, aku melihat jam yang ada di ponselku. Aku sedang menunggu bus. Setelah sekian lama, setelah berhasil mengumpulkan benda terkutuk yang disebut uang, akhirnya aku bisa berangkat ke kotanya; Jakarta.

Aku sudah tak sabar. Dadaku terus berdebar. Aku terus memandangi boneka panda yang dengan susah payah kubeli. Boneka yang selalu membuatnya memohon manja, atau merengek seperti balita yang menginginkan balon. Dia pasti akan menyukainya. Aku membayangkan bagaimana dia akan bersorak ketika aku memberikannya. Sambil memelukku, dia mengucapkan terima kasih. Ah, aku benar-benar merindukannya. Sangat merindukannya.

Akhirnya bus yang kutunggu tiba. Dengan langkah mantap aku bergegas menuju pintu masuk. Lalu sambil tersenyum lebar, aku berkata, “Tunggu aku, Jakarta!”